"Ketika pena telah diangkat, dan lembaran-lembaran telah mengering..."

Test Driving Toothless
John Powell

SOHO

APA ITU SOHO?


SOHO (Small Office Home Office) merupakan trend baru di dunia Internet dimana seseorang, atau sekelompok kecil orang bekerja di rumah menggunakan Internet & komputer sebagai media utamanya.

SOHO (small office home office) yaitu sebuah konsep bisnis kontemporer yang lahir karena adanya perkembangan di bidang teknologi, telekomunikasi, dan digitalisasi, yang dapat memberikan kemudahan bagi para pengambil keputusan dari mana saja.

SOHO yaitu Perkantoran skala kecil dan menengah yang membutuhkan jaringan lokal (Local Area Network – LAN) dengan skala kurang dari 50 unit perangkat komputer di satu tempat, tidak tersebar atau memiliki cabang di sejumlah lokasi geografis yang terpisah atau tersebar di banyak tempat. Hal ini terjadi karena semakin berkembang dan meningkatnya pemanfaatan dan kebutuhan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang menjadi platform utama berbagai aktivitas kehidupan, bisnis maupun pemerintahan. LAN dan Internet adalah infrastruktur dasar yang menjadi modal dasar penerapan dan pemanfaatan TIK.

Bekerja ala SOHO membutuhkan sosok specialis. Internet memungkinkan kita menjadi seorang pakar (specialis) dalam bidang tertentu tanpa harus menempuh pendidikan formal (perguruan tinggi) terlebih dahulu. Kita bisa belajar secara otodidak melalui dunia maya. Informasi di dunia maya begitu melimpah, kita bisa mendapatkan informasi yang kita perlukan untuk mendukung kerja-kerja kita.Dan, tidak akan mungkin kita akan menguasai semua bidang. Untuk itu, penentuan fokus menjadi sesuatu yang penting agar kita bisa diakui oleh masyarakat.

SOHO memang menawarkan kemudahan dari sisi mobilitas serta pengaturan waktu dalam menjalankan aktivitas pekerjaan. Namun demikian, ketika seseorang memutuskan untuk menerapkan konsep SOHO, tak lantas bisa mengabaikan sisi profesionalisme pekerjaan. Walau tak harus menggunakan sistem kerja yang terlalu formal layaknya kantor pada umumnya, tapi tetap saja SOHO harus dijalankan dengan sikap profesional. Misalnya tetap menerapkan jam kantor dengan waktu yang bisa ditentukan sendiri. Selain masalah jam kantor, hal penting lain yang harus diperhatikan adalah ketersediaan area yang nantinya disebut sebagai kantor. Mengingat area ini akan bersatu dengan rumah pribadi, tak ada keharusan untuk menyediakan ruang yang lebar layaknya kantor seperti kebanyakan.

Yang penting ada pembatasan antara area kantor dengan area hunian, seperti diberi sekat antara kantor dengan ruangan lain. Pemberian batasan tersebut diharapkan bisa memunculkan aura profesionalisme yang tertuang dalam ketersediaan ruang sebagai sebuah kantor. Dengan begitu tidak akan memunculkan kesan, bekerja dari rumah bisa dilakukan sesuka hati.Akibat positif SOHO adalah efisiensi ruang dan waktu, percepatan proses, peningkatan kinerja dan reduksi biaya. Akibat negatifnya adalah hilangnya sejumlah fungsi, struktur dan aktivitas serta kertergantungan terhadap Teknologi. Lingkungan dan budaya kerja akan berubah secara drastis, apabila tidak disikapi dengan bijaksana oleh manajemen akan menimbulkan shock, friksi dan resistensi karena harus senantiasa beradaptasi.

Sejarah SOHO

Konsep SOHO sendiri mulai menjadi tren di pertengahan 1990-an saat penggunaan PC (personal computer) semakin marak, dan proses komunikasi data dan suara makin mudah dan murah melalui jalur internet. Hal ini memungkinkan aktivitas bisnis tak harus lagi dilakukan melalui kantor, tapi bisa pula dijalankan dari rumah. Umumnya profesi yang bisa dijalankan dengan konsep SOHO misalnya penulis, arsitek, agen real estat, programmer, konsultan bisnis, bidang tehnologi informasi, sampai designer.
Dan akhir abad ke-20 menjadi era kebangkitan SOHO secara global bahkan mulai menjadi gaya hidup modern. Para produsen peralatan kantor juga mulai dengan serius melirik SOHO sebagai sebuah pasar yang menjanjikan. Tak heran bila kini banyak peralatan kantor yang berukuran kecil dan multifungsi, macam fax yang bisa berfungsi sebagai printer, scanner, sampai fotocopy.

Sebenarnya sebelum abad ke-19 konsep yang mirip dengan SOHO sudah dikenal. Hanya saja saat itu tidak dikenal terminologi SOHO ini. Sebelum Revolusi Industri di abad ke-19, mayoritas kegiatan bisnis justru dijalankan dari kantor dalam skala rumahan. Hal ini disebabkan skala bisnis saat itu juga masih kecil.
Konsep ini sudah dimulai di New York, London, dan Beijing. Malahan Singapura tak mau kalah dan telah membangun SOHO Central yang merupakan bagian dari proyek prestisius Far East Organization, Central. Di Jakarta, konsep serupa mulai diperkenalkan salah satunya oleh PT Duta Anggada Realty dengan proyek apartemen berlantai 40 yaitu SOHO Citylofts.

IMPLEMENTASI SOHO
Contohnya adalah Onno W. Purbo. Setelah melepaskan jabatannya sebagai dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB), Onno mengikrarkan dirinya untuk bekerja di rumah. “ Saya sudah lama bekerja di rumah, misalnya menulis buku, artikel, dan paper ke berbagai media, serta jurnal elektronik. Di samping memenuhi berbagai undangan presentasi seminar dan lain sebagainya. Tujuannya adalah sangat sederhana, karena saya berkeinginan agar masyarakat Indonesia pandai dan melek Internet selain meng-internet-kan masyarakat”, ujar Onno dalam surat pengunduran dirinya sebagai dosen ITB.

Menurut Doktor lulusan University of Waterloo, Ontario Canada ini, bekerja di rumah menjadi sangat mungkin karena adanya bantuan dari infrastruktur Internet yang relatif murah. Ketika masih menggunakan sambungan Internet dial-up, Onno mengaku bisa mengirit biaya sekitar 15-30 menit per hari. “Hasilnya lumayan. Untuk membayar akses ke Internet hanya menghabiskan sekitar Rp. 40-60.000/bulan, sedang untuk Telkom-nya menghabiskan sekitar Rp. 150-250.000/bulan”, tuturnya.

Selain itu, pria kelahiran kota Kembang Bandung ini juga sudah menginstalasi internet wireless kecepatan 11Mbps, berlangganan secara personal (bukan corporate) dengan biaya sekitar Rp. 330.000/bulan untuk 500Mbyte pertama. Lumayan murah untuk kelas rumahan, bahkan biaya yang dikeluarkan per bulan tidak berbeda jauh dengan pada saat menggunakan dial-up Telkom. “Saya juga memperoleh kecepatan yang jauh lebih tinggi dengan sambungan 24 jam/hari”, tambahnya.

Contoh yang paling real untuk kasus ini adalah Owo Sugiono dari rab.co.id. Ketika melepaskan software billing system WARNET miliknya ke masyarakat secara bebas, nama Owo menjadi beken dan pekerjaannya pun tak perlu terlalu dirisaukan. Bahkan, rekan-rekannya di Knowledge Management Research Group (KMRG) ITB, yang di pimpin Ismail Fahmi, melakukan hal yang sama. Akibatnya, dana bantuan penelitian dalam jumlah puluhan ribuan dolar AS bisa diperoleh dengan mudah dari Kanada.

Pada tingkat yang lebih tinggi sebagai software developer, ini mungkin sulit untuk memperoleh pekerjaan di Indonesia yang tingkat industrinya masih berupa industri jasa untuk instalasi dan servis. Walaupun sudah ada beberapa profesional TI di Indonesia yang sudah mampu menangani jasa outsourcing software house luar negeri dan mengerjakannya di Indonesia. Gde Raka, misalnya. Salah seorang mantan mahasiswa Onno W. Purbo ini sekarang menjadi outsourcer perusahaan software di Silicon Valley US. Gde Raka mengerjakan pekerjaan pemrogramannya dengan santai di Bali. Ia tak perlu harus ke Amerika, melainkan cukup dengan bantuan Internet hasil pekerjaannya bisa langsung dikirim.

Sumber:
1. http://www.pataka.net/2006/11/18/membangun-internet-soho/
2. http://cyberjob.cbn.net.id/cbprtl/cyberjob/detail.aspx?x=Hot+Topic&y=cyberjob%7C0%7C0%7C2%7C24
3. http://simpang5.wordpress.com/2008/02/21/soho-alternatif-solusi-bekerja-yang-tepat/
4. http://nyam-nyam.com/index.php?option=com_content&task=view&id=13&Itemid=3
5. http://onno.vlsm.org/v09/onno-ind-1/application/bagaimana-pola-kerja-soho-di-dunia-cyber-06-2000.rtf.
6. http://www.ebizzasia.com/0109-2003/enterprise,0109,02.htm
7. www.hipki.or.id/news_modul/Makalah_Seminar_Inkubator.doc+definisi%2BSOHO&hl=id&ct=clnk&cd=30&gl=id
8. http://www.dudung.net/index.php?naon=depan&action=detail&id=815&cat=1
9. http://neisha-diva.blogspot.com/2008/04/berkantor-di-rumah-dengan-soho.html

Share:

Packet Tracer Version 5.3 Software Downloads

Packet Tracer version 5.3 is a minor release that includes new protocol support and enhanced functionality: It replaces Packet Tracer version 5.2.1.8
Packet Tracer 5.3 supports activities authored in Packet Tracer 4.0, 4.1, 4.11, 5.0, 5.1 and 5.2.x . Please note that the last two courses of the CCNA Discovery and CCNA Exploration curricula require Packet Tracer version 4.11 at a minimum, CCNA Security requires version 5.2 at a minimum, and the beta Packet Tracer Skills Based Assessments require version 5.2.1 at a minimum. The curricula are fully compatible with Packet Tracer 5.3
You can download both the Packet Tracer application and tutorial files in one download package. However, due to the large file size it is faster to download the application by itself, if that is all you need. Choose the download option appropriate for your needs.
Windows:
Title Document Type
Packet Tracer v5.3 Application + Tutorial
This is the complete Packet Tracer program including tutorials as a single downloadable package for Windows 2000, XP and Vista.
(EXE – 73.9 MB)
Updated
Packet Tracer v5.3 Application only
This option is just the Packet Tracer program and the help files for Windows 2000, XP and Vista. It does not include the tutorial files. The tutorial files are not necessary to run Packet Tracer.
Share:

Cisco tries to head off software-defined networks

SAN DIEGO -- Cisco's network programmability strategy is a multifaceted initiative intended to keep the business at the forefront of networking technology, even as it threatens the company's dominance.

Software-defined networking (SDN) has been hailed by its proponents as the biggest transformation on networking in decades. It promises to make the physical infrastructure irrelevant to the actual behavior of the traffic by enabling software programmability of flows and additional features.

The problem for Cisco is, it makes a lot of money of the customized nature of its hardware and software, which is omnipresent in enterprise, data center and service provider networks. Cisco is the leading provider of Ethernet and IP networking hardware in the industry.

IN THE WORKS: Cisco software to connect branch offices to cloud

AT THE SUMMIT: Cisco's ties to spin-in confirmed

MORE: Critical milestones in Cisco history

But with the increasing openness of software in open-source communities and the broadening capabilities of merchant ASICs, SDNs and associated standards -- like OpenFlow -- are poised to further commoditize and undercut the profitability of networking hardware. So it behooves Cisco to get as close to SDN as it can, from every angle, so it can control not only the pace at which it infiltrates Cisco's ubiquity, but also the threat it poses to it.

"Networking is about to be reinvented and Cisco will do that reinvention of networking," says Cisco CTO Padmasree Warrior, during an interview at the company's annual business partner conference here. "Clearly we understand the implication of what is good about it and what are the things we need to improve."

The single most visible aspect of Cisco's programmability strategy -- the company seems careful not to label it as an SDN initiative -- is Insieme, the Cisco-funded startup building what is believed to be a programmable switch line supporting OpenStack and distributed data storage. Cisco initially invested $100 million in Insieme, and will acquire the company for up to $750 million once its product line is developed and sales ramp.

Other facets of Cisco's programmability strategy include adding features to its NX-OS data center network operating system for "agility and scale," Warrior says; getting the Nexus and Catalyst switching lines on common ASIC and software roadmaps; and extending the roadmap of the Nexus 1000v virtual switch, which Cisco claims is a pioneer in SDNs.

"Probably the first software-defined network in the industry was the Nexus 1Kv," Warrior says. "That started with 10 engineers as a project within Cisco."

There are now more than 5,000 customers for the Nexus 1000v, which has been shipping since 2009.

Another aspect of the programmability strategy is to do nothing to let customers program their Cisco networks.

"Not all customers want programmability," Warrior says. "It's a very small subset wants programmability. A lot of our customers are happy to leave everything to us to allow them to be programmed. So we have to be careful that we don't equate software-defined networking with only one aspect of it."

Indeed, Cisco's multipronged approach is intended to address the various business and use cases its vast installed base of customers face. It also includes support for various standard and non-standard techniques, such as OpenStack and OpenFlow, but is not founded on any one.

"OpenFlow ... we look at it as one way to achieve that programmability," Warrior says. "Certain customers want to experiment with OpenFlow and we'll support them with that. We don't believe it defines software-defined networking or programmability. It is one tool or one approach to do that. Similarly, with a software controller that's one way to deploy network services. So there will be multiple ways to get to that endpoint."

Customers with "massively scalable" data centers are prime targets for SDNs to manage increasing "East-West" traffic flows between server racks in flatter topologies with multiple active links, Warrior says.

"But for the majority of enterprises, it isn't," she says.

So Insieme is but one component of Cisco's overall programmability strategy. And its products aren't expected for another two years, at least.

But sources say in the interim -- over the next six to 12 months -- Cisco is expected to unveil new products with SDN capabilities that make the network more programmable.

And on the network commoditization threat? Leadership in networking is much more than programmable technology, Warrior points out.

"When somebody else is coming up with ideas, you drive innovation faster," she says. "At the end of the day though, networking is an infrastructure. And to lead in that market you need to have a great channel and great go-to-market program. You won't be able to be successful in the marketplace with just technology. This is where Cisco leads everybody else in the industry."

Share:

TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI

Salah satu visi dan misi perguruan tinggi Indonesia (kedinasan maupun bukan) adalah mewujudkan TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI. Lantas apa sebenarnya yang dimaksud TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI? Berikut uraiannya.

Hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat indonesia. Dengan memperhatikan perkembangan dunia yang begitu pesat, maka pembentukan masyarakat Indonesia yang modernmenjadi tujuan utama dari pembangunan nasional Indonesia. Pembangunan masyarakat modern ini akan menyangkut perubahan-perubahan nilai-nilai Pancasila.

Manusia modern tersebut mempunyai ciri-ciri antara lain : lebih mudah meneriam dan menyesuaikan diri kepada perubahan-perubahan, lebih ahli dalam menyatakn pendapatnya, memiliki rasa tanggungb jawab, lebih berorientasi kemasa depan, lebih mepunyai kesadaran mengenai waktu,orgaiusasi, teknologi, dan ilmun pengetahuan.

Dalam kaitan pembentukan manusia modern itulah kita melihat betapa pentingnya peranan perguruan tinggi sebagai jenjang tertinggi dalam system pendidikan formal dinegara kita yang hendaknya dapat mengahsilkan tenag-tenaga ahli dan dapat pula mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sebagai lembaga yang melaksanakan pendidikan tinggi,STKIP PGRI Pontianak mempunyai tiga fungsi utama yaitu :

1. Pendidikan dan pengajaran
2. Penelitian dan pengembangan
3. Pengabdian pada masyarakat


Ketiga fungsi tersebut lebih dikenal sebagi TRI DARMA PERGURUAN TINGGI yang harus dikembangkan secara simultan dan bersama-sama.

Penelitian harus menjunjung tinggi kedua dharma yang lain. Penelitian diperlukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan penerapan teknologi. Untuk dapat melakukan penelitian diperlukan adanya tenaga-tenaga ahli yang diasilkan melalui proses pendidikan. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan sebagi hasil pendidikan dan penelitian itu hendaknya diterapkan melalui Pengabdian pada masyarakat sehingga masyarakat dapat memanfaatkan dan menikmati kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut.

Dengan memperhatikan uraian diatas , semakin jelaslah hubungan antara tri dharma tersebut.Tri Dharma Perguruan Tinggi ini sebenarnya menerapkan fungi perguruan tinggi yang Universal. Artinya bukan hanya di Indonesia saja. Tri Dharma perguurn tinggi juga terdapat di negara maju lainnya. Hanya saja dalm hal ini di Indonesia dinyatakn secar eksplisit,sehingga setiap warga negara khususnya warga perguruan tinggi akan senantiasa sadar akan tugasnya. Dengan demikian dalm menjalankan kegiatannya tidak menyimpang dari tugas yangf telah ditetapkan seperti tersebut diatas.

Agar dapt lebih mengahayati makna dari perguruan tinggi, marilah kita tinjau ketiga dharma itu secara lebih mendalam.

1. Pendidikan dan Pengajaran

Pengertian pendidikan dan pengajaran disini adalah dalam rangka menerusakan pengetahuan atau dengan kata lain dalam rangka transfer of knowledge ilmu pengetahuan yang telah dikembangkan melaui penelitian oleh mahasiswa di pergurun tinggi.Dalam pendidikan tinggi dinegara kita dikenal dengan istialh strata, mulai dari strata satu(S-1) yaitu merupakan pendidikan program sarjana,strata dua(S-2) merupakan program magisterdan strata tiga (S-3) yaitu pendidikan doktor dalam sutau disiplin ilmu,serta pendidikan jalur vokasional/non gelar(diploma).

2. Penelitian dan pengembangan

Kegiatan penelitian dan pengembangan mempunyai peranan yang sangat penting dalam rangka kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tnapa penelitain,maka pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi terhambat. Penelitian ini tidaklah berdiri sendiri, akan tetapi harus dilihat keterkaitannya dalam pembangunan dalam arti luas.artinya penelitain tidak semata-mata hanya untuk hal yang diperlukan atau langsung dapat digunakan oleh masyarakat pada saat itu saja,akan tetapi harus dilihat dengan proyeksi kemasa depan. Dengasn kata lain penelitian dipergurun tinggi tidak hanya diarahkan untuk penelitian terapan saja,tetapi juga sekaligus melaksanakn penelitian ilmu-ilmu dasar yang manfaatnya baru terasa penting artinya jauh dimasa yang akan datang.

3. Pengabdian pada masyarakat

Dharma pengabdian pada masyarakat harus diartiakan dalam rangka penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dikembangkan di perguruan tinggi, khususnya sebagi hasil dari berbagai penelitian.Pengabdian pada masyarakat merupakan serangkaian aktivitas dalam rangka kontribusi perguruan tinggi terhadap masyarakat yang bersiafat kongkrit dan langsung dirasakn manfaatnya dalam waktu yang relatif pendek. Aktivitas ini dapat dilakukan atas inisiatif individu atau kelompok anggota sivitas akademika perguruan tinggi terhadap masyarakat maupun terhadap inisiatif perguruan tinggi yang bersangkutan yang bersifat nonprofit(Tidak mencari keuntungan). Dengan aktivitas ini diharapkan adanya umpan balik dari masyarakat ke perguruan tinggi,yang selanjutnya dapat digunakn sebagai bahan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih lanjut.
Share:

Insan Agung

Insan Agung

ORCID iD

Popular Posts

Powered by Blogger.